Tuesday, November 20, 2012

PTK SD METODE DISKUSI




PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA
DENGAN METODE DISKUSI PADA MATA PELAJARAN
IPA DAN IPS



(Laporan)








Oleh

RITA YURIDA
NIM : 814 646 072












UNIVERSITAS TERBUKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDKAN
UPBJJ-UT BANDAR LAMPUNG
2009.2



LEMBAR PENGESAHAN

1.
Judul Laporan
:
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN METODE DISKUSI PADA MATA PELAJARAN IPA DAN IPS KELAS VI SD NEGERI  1  PANGGUNG JAYA          KEC. RAWAJITU UTARA TAHUN PELAJARAN 2009/2010
2.   Identitas Peneliti                          :

N A M A                                       : RITA YURIDA
NIM                                               : 814 646 072
PROGRAM STUDI                    : S-1 PGSD
MASA UJIAN                              : 2009.2
KELOMPOK BELAJAR                        : BUMI DIPASENA
 

3.   Lokasi Penelitian                         :

NAMA SEKOLAH                      : SD NEGERI 1 PANGGUNG JAYA
KELAS                                         : VI (ENAM)
MATA PELAJARAN                  : IPA DAN  IPS
ALAMAT                                      : Panggung Jaya Kec. Rawajitu Utara
                                                        Kab. Mesuji
 

4.   Lama Penelitian                        : 1 Bulan (3 Siklus Pembelajaran)


Bumi Dipasena,     Nopember 2009
Mengetahui                                            Mahasiswa
Supervisor



Drs. ERI SETIAWAN, M.Si.                 RITA YURIDA
NIP. 1958111019883 1 002                 NIM.  814 646 072


LEMBAR KONSULTASI LAPORAN PKP
1.
Judul Laporan
:
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN METODE DISKUSI PADA MATA PELAJARAN IPA DAN IPS KELAS VI SD NEGERI  1  PANGGUNG JAYA          KEC. RAWAJITU UTARA TAHUN PELAJARAN 2009/2010

2.   Identitas Peneliti                          :

N A M A                                       : RITA YURIDA
NIM                                               : 814 646 072
PROGRAM STUDI                    : S-1 PGSD
MASA UJIAN                              : 2009.2
KELOMPOK BELAJAR                        : BUMI DIPASENA

NO
HARI /
TANGGAL
HAL-HAL YANG DIBICARAKAN
PARAF

























Bumi Dipasena,      Nopember 2009
Pembimbing,


Drs. ERI SETIAWAN, M.Si.
NIP 1958111019883 1 002

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur hanyalah milik Allah Tuhan Seru sekalian Alam, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang setia mengagungkan asma-Nya. Atas Rahmat tersebut kami dapat menyelesaikan penelitian dan laporannya dari awal hingga akhir berjalan lancar, sesuai dengan yang diharapkan, tanpa menjumpai kendala yang berarti.

Laporan yang amat sederhana ini disusun sebagai tugas akhir perkuliahan Universitas Terbuka Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program S-1 PGSD pada mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP).
Dengan selesainya laporan ini, kami menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1.   Bapak  P A D R I, S.Pd.SD.   selaku Pengelola S-1 PGSD Kelompok Belajar (Pokjar) Bumi Dipasena yang telah memberikan fasilitas dan kesempatan untuk melaksanakan perkuliahan dan penelitian untuk laporan ini.
2.  Bapak Drs. Eri Setiawan, M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penelitian ini sehingga penelitian dan penulisannya ini dapat terselesaikan sesuai dengan targetnya.
3.  Ibu Eni Puryanti   selaku Kepala SD negeri 1 Panggung Jaya yang telah memberikan ijin dan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan penelitian.
4.  Bapak Samsuri selaku teman sejawat yang dengan setia mendampingi, mengamati dan memberikan masukan-masukan yang amat berarti untuk kelancaran proses penelitian ini.
iii
5.  Bapak Ibu guru SD Negeri 1 Panggung Jaya yang telah membantu pelaksanaan observasi dalam penelitian atau perbaikan pembelajaran ini.
6.  Rekan-rekan Mahasiswa S-1 PGSD Pokjar Bumi Dipasena sebagai rekan diskusi dalam pelaksanaan pembelajaran dan penyusunan laporan ini.
Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materiil hingga terselesaikannya penyusunan dan penulisan laporan ini, kami tidak bisa memberikan imbalan apa-apa kecuali hanya bisa berdoa semoga akan mendapat imbalan yang setimpal dari Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca dan kami berharap kiranya laporan ini ada manfaatnya, khususnya bagi kami pribadi dan umumnya kepada segenap pembaca sekalian. Amin.



Bumi Dipasena,         Nopember 2009

Penulis,




RITA YURIDA
NIM.  814 646 072









iv


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL  ..............................................................................................  i
LEMBAR PENGESAHAN .....................................................................................  ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................          iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................           v
DAFTAR TABEL............................................................................................          vii

BAB   I                    :  PENDAHULUN
                                                                      A.      Latar Belakang Masalah ........................................             1
                                                                       B.      Rumusan Masalah ..................................................             5
                                                                       C.      Tujuan Penelitian ...................................................             6
                                                                      D.      Manfaat Penelitian .................................................             6

BAB  II                    :  KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian Motivasi Pembelajaran .........................             8
B.     Pengertian Hasil Belajar ........................................             9
C.     Pembelajaran Strategi Heuristik ............................           11

BAB  III                    :  PELAKSANAAN PENELITIAN
                                      A.  Subjek Penelitian .......................................................... 13
                                      B.  Deskripsi Per Siklus .............................................          14

v   

BAB  IV                    :  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN  
                                     A. Deskripsi Hasil Penelitian ......................................           18
                                          1.  Hasil / Temuan yang Diperoleh ........................           18
                                          2.  Peningkatan Motivasi Belajar Siswa ................           22
                                          3. Peningkatan Hasil Belajas Siswa .......................           23
                                     B. Pembahasan ...........................................................           24
                                          1. Siklus I ...............................................................           24
                                          2. Siklus II .............................................................           26
                                          3. Siklus III ............................................................           29

BAB    V                     : KESIMPULAN DAN SARAN
                                      A.  Kesimpulan ..........................................................           32
                                      B. Saran......................................................................           33

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN







vii

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi Sumber Daya Manusia  (SDM) melalui kegiatan pengajaran. Ada dua buah konsep kependidikan yang berkaitan dengan lainnya, yaitu belajar ( learning ) dan pembelajaran ( intruction ). Konsep belajar berakar pada pihak peserta didik dan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik.
Dalam proses belajar mengajar (PBM) akan terjadi interaksi antara peserta didik dan pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai pencari, penerima pelajaran yang dibutuhkannya, sedang pendidik adalah seseorang atau sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan belajar mengajar dan seperangkat peranan lainnya yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif.
Kegiatan belajar mengajar melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta didik, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode mengajar, media dan evaluasi. Tujuan pembelajaran adalah perubahan prilaku dan tingkah laku yang positif dari peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, seperti : perubahan yang secara psikologis akan tampil dalam tingkah laku (over behaviour) yang dapat diamati melalui alat indera oleh orang lain baik tutur katanya, motorik dan gaya hidupnya.
Tujuan pembelajaran yang diinginkan tentu yang optimal, untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik, salah satu diantaranya yang menurut penulis penting adalah Metodologi mengajar. Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya.
 Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara/mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, Motorik dan gaya hidupnya.
Metodologi mengajar banyak ragamnya, kita sebagai pendidik tentu harus memiliki metode mengajar yang beraneka ragam, agar dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan hanya satu metode saja, tetapi harus divariasikan, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar siswa dan kondisi serta situasi yang ada pada saat itu, sehingga tujuan pengajaran yang telah dirumuskan oleh pendidik dapat terwujud/tercapai
      Dalam kegiatan belajar mengajar banyak metode yang biasa dipakai  oleh guru untuk menyampaikan pelajaran kepada anak didiknya. Dari sekian banyak metode tidak ada metode yang paling baik, begitu sebaliknya juga tidak ada metode yang paling buruk. Metode yang dipakai untuk menyampaikan pelajaran dinamakan dengan metode pengajaran.
      Masing-masing metode pengajaran selalu mempunyai kekurangan maupun kelebihan. Kekurangan maupun Kelebihan itu sendiri disamping menjadi karakter khusus dari metode itu sendiri, juga kekurangan maupun kelebihan metode pengajaran. Itu sangat ditentukan oleh faktor lain, yaitu audience atau objek yang dikenai metode itu, bisa pula jenis mata pelajaran yang diajarkan. Mengingat karakter maupun jenis informasi yang dimiliki oleh setiap mata mata pelajaran itu tidak sama, maka tidak ada satu metode yang baik untuk semua mata pelajaran, demikian pula tidak ada satu metode yang buruk untuk semua mata pelajaran.
      Karena itu bisa jadi metode pengajaran tertentu sangat baik untuk mata pelajaran itu pula, demikian setrusnya. Selanjutnya yang menjadi persoalan adalah belum adanya hasil penelitian yang menyatakan bahwa untuk metode tertentu sangat baik untuk mata pelajaran tertentu, demikian sebaliknya jangan menggunakan metode itu, karena sangat tidak tepat untuk mata pelajaran itu. Jika ada yang berpendapat bahwa metode tertentu baik untuk mata pelajaran tertentu pula, namun ternyata tidak bias dipraktekkan untuk disegala tempat, juga disegala tingkatan. Dengan demikian untuk memilih metode mana yang paling tepat dalam rangka meningkatkan hasil prestasi belajar untuk mata pelajaran yang tertentu, dalam hal ini khususnya mata pelajaran Sejarah diperlukan langkah-langkah yang tepat.
      Memilih metode guna meningkatkan prestasi belajar khususnya mata pelajaran Sejarah  digunakan langkah-langkah sebagai berikut :
  1. pertama, mendasarkan  pada pendapat orang lain ( ahli ) mengenai metode mana yang tepat.
  2. kedua, menerapkan metode tersebut kemudian membandingkan penggunaan metode- metode itu sehingga didapatkan pilihan yang tepat mengenai metode yang akan digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar.
Muhibbin Syah ( 2000 ), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama ( socialized recitation ).
 Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk mendorong siswa berpikir kritis, mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas, mendorong siswa menyumbangkan buah pikirnya untuk memcahkan masalah bersama, dan mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama.
Oleh karena itu peneliti menawarkan sebuah solusi dengan mengambil metode pembelajaran sejarah dengan metode diskusi. Pada penelitian ini peneliti mengambil judul Peningkatan Prestasi Belajar  Siswa Mata Pelajaran Sejarah Dengan Metode Diskusi  di Madrasah Tsanawiyah Qomarul Hidayah Tugu Trenggalek”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis menentukan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana penerapan metode diskusi  pada mata pelajaran Sejarah di Madrasah Tsanawiyah Qomarul Hidayah Tugu Trenggalek ?
2.      Bagaimana peningkatan Prestasi  belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah  di Madrasah Tsanawiyah Qomarul Hidayah Tugu Trenggalek dengan metode diskusi ?

C.    Tujuan
Sebagaimana rumusan masalah diatas penelitian bertujuan sebagai berikut :
1.      Menerapkan   metode diskusi  pada mata pelajaran Sejarah di Madrasah Tsanawiyah Qomarul Hidayah Tugu Trenggalek.
2.      Meningkatkan  Prestasi  belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah  di Madrasah Tsanawiyah Qomarul Hidayah Tugu Trenggalek dengan metode diskusi.

D.    Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini akan dibahas berbagai hal diantaranya yaitu :
1.      Prestasi  siswa dalam mengikuti KBM
2.      Metode diskusi
E.     Manfaat Penelitian
Ada banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan penelitian yaitu :
1.      Bagi siswa
Menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar, meningkatkan keberanian siswa untuk berpendapat ataupun mengutartakan pertanyaan sehingga mampu menepis perasaan kecemasan matematika, membiasakan siswa untuk kritis dan kreatif dalam KBM sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
2.      Bagi Guru
Menambah wawasan guru dan pengetahuan tentang pembelajaran yang efektif untuk pembelajaran Matemtika sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
3.      Bagi Sekolah
Dengan dikenalnya dan dikembangkannya metode pembelajaran yang variatif dan kreatif akan meningkatkan prestasi akademik siswa yang mana akan berpengaruh juga terhadap mkualitas dan mutu pembelajaran dari sekolah yang bersangkutan.

F.     Tindakan Yang Dipilih
Untuk mengatasi model di atas salah satunya dengan melalui metode Diskusi. Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk mendorong siswa berpikir kritis, mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas. mendorong siswa menyumbangkan buah pikirnya untuk memcahkan masalah bersama dan mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama.
Bagi siswa untuk benar-benar mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan, mereka harus kerja untuk memecahkan masalah, menemukan suatu bagi dirinya sendiri dan selalu bergulat dengan ide-ide dan gagasan. Tugas mendidik tidak hanya menuangkan atau menjelaskan sejumlah informasi ke dalam benak siswa, tetapi mengusahakan bagaimana agar konsep-konsep penting dan berguna dan ketahanan kuat dalam benak siswa.
Metode diskusi  ini lebih ditekan pada siswa sebagai subjek dan pelaku dalam pembelajaran. Kelebihan metode diskusiadalah menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan, menyadarkan ank didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik, dan membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi.








C.  Metode Diskusi
1. Pengertian
“Metode diskusi adalah metode pengajaran dimana siswa membahas, bertukar pikiran atau pendapat mengenai suatu topik atau masalah tertentu untuk dapat mencapai suatu kesepakatan atau kesimpulan”. ( Dekdikbud, 1984 : 31 ).
Jadi pengertian diskusi kelompok adalah suatu cara mengajar yang digunakan guru dalam pemberian materi pelajaran ( topik bahasan ) melalui pemecahan masalah untuk menarik suatu kesimpulan bersama.
2. Jenis-jenis Metode Diskusi
a.         Whole group
Suatu diskusi dimana anggota kelompok yang melaksanakan tidak lebih dari 15 (lima belas) orang peserta.
b.      Buzz group
Suatu diskusi yang terdiri dari satu kelompok besar dibagi menjadi 2 sampai 8 kelompok yang lebih kecil.
c.        Panel
Suatu diskusi yang sering digunakan yang dari satu kelompok kecil 3-6 orang peserta dengan susunan semi melingkar yang dihadapkan pada satu kelompok besar peserta lain.
d.      Caologium
Metode diskusi yang dijalankan oleh beberapa orang tetapi tidak dalam bentuk pidato.
e.       Informal Debate
Diskusi yang dilaksanakan dengan membagi kelompok menjadi 2 (dua) team yang sama kuat dan jumlahnya seimbang.
f.       Fish Bowl
Diskusi yang terdiri dari seorang moderator dan satu atau tiga orang nara sumber, duduk dalam susunan semi lingkaran berderet dengan kursi menghadap kelompok.
            Adapun tujuan dari penggunaan metode diskusi ini adalah :
a)      Membangkitkan kegiatan belajar dengan cara membahas dan memecahkan masalah.
b)      Baik untuk menumbuhkan dan membina sikap serta perbuatan siswa secara demokratis.
c)      Baik untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan cara piker kritis dan logis.
d)     Membina siswa untuk dapat mengemukakan pendapatnya dengan bahasa yang baik dan benar.
3 Kebaikan dan Kelemahan Metode Diskusi
            Adapun kebaikan dan kelemahan metode diskusi  adalah sebagai berikut :
1.      Kebaikan
·         Mendidik siswa untuk belajar bertukar pikiran.
·         Memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat memperoleh penjelasan dari berbagai sudut pandangan atau sumber.
·         Merangsang siswa untuk mengemukakan pendapat atau menentang pendapat teman.
·         Mendidik siswa untuk menghayati pembaharuan suatu problem secara bersama-sama.
2.      Kelemahan
·         Tidak semua topik dapat dijadikan pokok diskusi.
·         Diskusi membutuhkan waktu yang sama.
·         Tidak semua siswa berani mengemukakan pendapatnya.
·         Diskusi akan didominasi oleh siswa yang berani dan biasa bicara.
Selanjutnya untuk menutupi segala kekurangan yang terdapat dalam metode pengajaran diskusi ini, maka seorang guru harus pandai-pandai menutupi kekurangan tadi dengan misalnya memberikan variasi-variasi pada waktu pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas. Variasi pada pada penerapan metode diskusi dapat diselingi dengan metode tanya jawab dan metode yang lainnya, yang bertujuan untuk melihat efektifitas metode pengajaran yang diterapkan.



D.     Pembahasan Tentang Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi
Berikut ini akan penulis paparkan definisi tentang prestsi menurut pendapat para ahli :
a.       Menurut Kamus Umum W.J.S Poerwadarminta, prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya).
b.      Dalam Kamus Edisi Ketiga (2000) didefinisikan bahwa prestasi adalah hasil yang telah diperoleh (dicapai dan lain-lain) ataupun pencapaian terhadap sesuatu.
c.       L.W.Rue (1993) berpendapat bahwa prestasi adalah hasil pencapaian tugas yang merujuk kepada kerja bagi setiap individu.
d.      Philip Ricciardi (1996) menyatakan pula bahwa prestasi merupakan hasil yang berhasil dicapai dengan kuantitas tertentu atau nilai kerja yang dilakukan terhadap pelajaran atau hasil belajar. Menurut beliau juga, prestasi merupakan suatu kebolehan untuk menghasilkan sesuatu yang benar dengan cara yang benar dan dilakukan pada saat yang tepat dalam suatu usaha yang bersesuaian.
e.       Menurut Tuty Haryati definisi dari prestasi adalah suatu hasil luar biasa/dahsyat yang telah dicapai. Menurutnya pula prestasi merupakan sebuah keberhasilan berstandar tinggi yang citranya hanya diperoleh segelintir orang. Dengan kemampuan  berfikir dan menilai, prestasi diasumsikan sebagai kesuksesan dengan ukuran yang ditentukan sendiri berdasrakan hasil penilaian yang eksternal. Dengan nilai yang tinggi, beliau juga memaknai prestasi sebagai barang mewah dimana hanya sedikit orang saja yang sanggup menyandangnya.
Dari beberapa definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa:
a.       Prestasi adalah hasil pencapaian terhadap tugas yang diberikan kepada individu maupun organisasi.
b.      Prestasi tidak mengandung konotasi negatif, artinya keberhasilan dalam kebaikan, karena semua orang selalu mngharapkannya.
2.      Pengertian Belajar
Kata belajar berasal dari kata dasar “ajar” yang mendapat awalan ber- menjadi belajar, yang berarti “berusha supaya memperoleh kepandaian, ilmu dan sebagainya.
Pengertian tentang belajar itu sangat kompleks, sehingga banyak pengertian yang dapat diambil dari padanya. Akan tetapi belajar mempunyai cirri–ciri kegiatan yang antara lain adalah: “Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui suatu pengalaman atau latihan.”
Manusia belajar dengan tujuan agar terjadi perubahan di dalam aspek kehidupannya, baik manusia itu sebagai makhluk psichophisis maupun sebagai makhluk socioindividual ataupun sebagai makhluk culturreligius.
Sebagai makhluk psichophisis manusia belajar nampak dengan usahanya untuk mencari keseimbangan kehidupan individu dalm hidup bermasyarakat. Sedangkan sebagai makhluk culturreligius nampak dengan usahanya untuk membudayakan lingkungan dan kestabilan beragama.
Untuk lebih memperjelas tentang pengertian belajar, maka penulis perlu mendefinisikan pengertian belajar menurut pemikiran para ahli. Walaupun terjadi perbedaan yang dipengaruhi oleh sudut pandang yang berbeda, tetapi pada prinsipnya mempunyai titik persamaan.
Agoes Soejanto mendefinisikan belajar adalah sebagai berikut:
“Belajar adalah suatu proses perubahan yang terus menerus pada diri manusia karena usaha untuk mencapai ke arah kehidupan atas bimbingan tentang cita-citanya dan sesuai dengan cita-cita dan falsafahnya.
Berbeda dengan Agoes Soejanto, Prof. Dr. Nasution dalam bukunya mengemukakan bahwa:
“Belajar adalah perubahan-perubahan dalam sistem urat syaraf ….. Definisi lain belajar adalah penambahan atau pengetahuan …… Definisi ketiga merumuskan bahwa belajar adalah sebagi perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan”.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut ditinjau dari sudut peristiwa yang terjadi pada sitem psichophisis seseorang yang melakukan belajar berarti suatu proses bekerjanya sistem urat saraf dimana berbagai perubahan terjadi didalamnya.
Ditinjau dari sikap individu dalam menghadapi objek yang dipelajari, belajar dalah suatu kegiatan menyusun dan mengatur lingkungn dengan sebaik-baiknya, sehingga lingkungan tersebut terserap oleh individu yang bersangkutan.
Jika ditinjau dari segi kegiatannya, belajar adalah suatu kegiatan untuk memmperoleh kebiasaan-kebiasaan, pegetahuan dan pengembangan tertentu dari sikap-sikap bagi orang yang melakukannya.
Dari uraian di atas, belajar mempunyai beberapa pengertian yaitu yang pertama bahwa belajar merupakan perubahan-perubahan dari proses bekerjanya urat syaraf. Kedua belajar mepunyai arti kemampuan menyusun dan mengatur lingkungan dengan sebaik–baiknya dan yang ketiga belajar merupakan suatu proses untuk memperoleh pengertian dan pengembangan sikap.
Ditinjau dari masanya (modern dan tidaknya), belajar memiliki dua pengertian, yaitu:
a.       Menurut Pendapat Tradisional
Menurut pendapat tradisional, belajar adalah: “menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan.”
Berdasarkan pendapat ini belajar merupakan suatu proses pengumpulan bermacam-macam pengetahuan sebanyak-banyaknya. Jadi yang diutamakan dalam belajar menurut pendapat ini adalah pendidikan intelek, dimana anak didik diberikan beraneka ragam pelajaran untuk menambah pengetahuan terutama dengan jalan menghafal. Dalam hal ini kemampuan untuk menerapkan ilmu yang diperoleh (praktik) kurang diutamakan.
b.      Menurut Pendapat Modern
Menurut pendapat modern, belajar adalah: “a change a behavior” atau perubahan tingkah laku seperti yang telah di difinisikan oleh Ernest R. Hilgard:
“Learning is the process by wick an activity originates or is changed through training procedures (weather in the laboratory or in the natural environment), as distinguished from changes by factors not attributable to training.”

Dalam definisi tersebut dikemukakan bahwa seseorang itu belajar apabila ia dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya ia tidak dapat melakukan atau mengerjakan. Dan adanya perubahan tingkah laku apabila ia menghadapi suatu keadaan.
Dalam hal ini, Prof. Dr. Winarno Surahmad mengemukakan bahwa beberapa hal yang menjadai ciri daripada belajar, yaitu:
1.      Adanya suatu usaha yng dilakukan seseorang.
2.      Adanya tujuan yang di inginkan.
3.      Adanya hasil yang dicapai.
Dengan demikian dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa di dalam masa hidupnya manusia tidak bisa melepaskan diri dari proses belajar yang merupakan suatu proses untuk menuju perubahan dan untuk memenuhi cita-citanya.

3.      Beberapa Teori Tentang Belajar
Selain yang tersebut di atas, ada beberapa teori balajar yang dianut oleh masyarakat. Ada tiga teori belajar yang akan penulis paparkan, yaitu:
a.Teori Transfer of Training
Teori ini berasal dari ilmu jiwa daya, yang berpendapat bahwa jiwa manusia itu terdiri dari beberapa daya yang dapat dipindahkan.
Menurut teori ini jiwa terdiri dari berbagai daya, masing-masing dengan fungsi tertentu seperti daya-daya itu dapat dilatih sehingga manambah baik fungsinya.
Teori ini dipelopori oleh Aristoteles yang berpendapat bahwa jiwa adalah merupakan daya kerja otak, dimana otak ini terdiri dari bagian-bagian yang masing-masing dapat dilatih sehingga dapat mencapai kemampuan semaksimal mungkin. Dari hasil latihan ini dapat dipindahkan dari bagian yang satu kebagian yang lain.
Drs. Agoes soejanto memberi koreksi atas teori ini sebagai berikut:
1. Bahwa proses belajar hanya berlangsung dengan menyalurkan hasil training, padahal sering terjadi pada waktu kita berfikir, perasaan ikut berfungsi, demikian pula dengan kemauan dan sebagainya.
2. Kebenaran adanya transfer tidak Mutlak tetapi terbatas.
3. Memnghargai lenih tinggi fikiran daripada aspek jiwa yang lain misalnya: perasaan, kemauan dan sebagainya gejala intelektualisme.
b. Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Asosiasi
Belajar menurut ilmu jiwa asosiasi terdapat dua teori, yaitu connectinisme atau bond Phiphotesis dari teori conditioning.
1. Teori Connectinisme
Penyelidik yang terkenal dalam teori ini adalah Thoradike dengan teorinya yang terkenal S – R bond teori.
Prof. S. Nasution mengemukakan “Menurut teori ini belajar adalah pembentukan atau penguatan antara S (stimulus) dan R (respon), reaksi ini antara S dan R terjadi hubungan (bond) yang erat bila seri ditarik.”
Mendidik dan mengajar tidak lain adalah memberi stimulus atau perangsang tertentu kepada anak yang menimbulkan pandangan suatu reaksi atau respon yang kita inginkan. Hubungan S dan R diulang-ulang, agar bertambah erat sehingga menjadi kebiasaan dan tidak segera dilupakan. Dengan hal ini peranan guru sangat pentinng untuk mempengaruhi situasi belajar mengajar, yaitu untuk menentukan dan memperkuat hubungan stimulus dan respon.
Dalam dunia pendidikan ada keberatan-keberatan dari apa yang dikemukakan dalam teori ini antara lain:
a.       Belajar menurut teori ini adalah mekanistis.
b.      Pelajaran bersifat teacher centered.
c.       Anak pasif artinya kurang didorong untuk berfikir tidak turun menetukan bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.
d.      Teori ini mengutamakan pembentukan materi.

2. Teori Conditioning
Teori ini dipelopori oleh ivav Pavlov yang sebenarnya dikenal sebagai pengembangan dari teori Connectinisme. Dalam hal ini dikatakan bahwa:
Hubungan S – R yang bersifat otomatis dianggap kurang tepet. Menusia sebagai organisme yang unik, menghadapi situasi dengan cara tersendiri tergantung pada bakat dan pengalamannya. Itu sebabnya faktor individu atau organisme dimasukkan menjadi S – O – R dimana O (organisme) turut menentukan S dan R.
Menurut teori ini tingkah laku manusia sebenarnya hanyalh merupakan hasil kerja sama antara beberapa reflek. Karena itu proses belajar tidak lain adalah proses mebiasakan adanya kerja sama antara reflek-reflek sebagaimana dikehendaki manusia.
Meskipun demikian masih dapat dikemukakan beberapa kelemahan dari teori yang dikemukakan oleh Ivav Pavlov:
a.         Percobaan dalam laboratorium berlainan dengan x keadaan dalam kehidupan yang sebenarnya.
b.      Pribadi seorang (tujuannya, kesanggupannya minatnya dsb) dapat mempengaruhi hasil experimen.
c.          Respons mungkin dipengaruhi oleh stimulus yang tidak dikenal. Tak dapat diramalkan lebih lanjut stimulus manakah yang menarik perhatian seseorang.
d.      Teori ini terlampau sederhana dan tidak memuaskan untuk menjelaskan segala seluk beluk belajar yang sangat kompleks itu.

3. Teori Belajar Menurut Ilmu Jiwa Gestalt
Teori ini dikemukakan oleh Wilham Windt dengan hasil experimennya mengatakan “Bahwa manusia adalah organisasi yang merupakan kesatuan bulat menyeluruh di dalam mengadakan interaksi dengan alam sekitarnya yang juga merupakan kesatuan yang bulat pula, sehingga karena ia selalu berusaha untuk merubah cara-cara hidupnya sebagai hasil interaksi tersebut. Proses berinteraksi untuk mendapatkan perubahan dalam kehidupan inilah yang disebut belajar.”

Teori ini mengemukakan keseluruhan sebagai prinsip yang penting, anak itu tidak dipandang sebagai sejumlah daya-daya, melainkan sebagai suatu keseluruhan, yakni suatu organisme yang dinamis dan senantiasa dalam interaksi dengan dunia sekitarnya untuk mencapai tujuannya.
Anak itu menerima perangsang dari luar, yang bersifat selektif terhadap perangsang-perangsang itu, yakni memilih perangsang-perangsang yang sesuai dengan tujuannya, lalu dia bereaksi terhadap perangsang-perangsang satu itu dengan mengolahnya. Ia berbuat dengan perangsang itu. Jadi belajar itu berlangsung berdasarkan lingkungan dan alam itu anak akan aktif.
Oleh karena itu di dalam belajar keseluruhan situasi yang bersangkut paut dengan belajar adalah sangat penting karena antara interaksi manusia dengan lingkungannya selalu bersifat berubah atau dinamis.
Dengan demikian penulis, tidak pernah mengalami atau menemui situasi yang sama, sehingga manusia harus selalu belajar. Seseorang akan belajar jika ia mendapatkan apa yang dikenal denganh insaigh atau pemahaman terhadap situasi yang problematik.
Dari uraian tentang belajar di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa:
1)      Belajar menurut Ilmu Jiwa Daya (transfer of training) adalah kesanggupan seseorang untuk mempergunakan suatu pengetahuan yang telah dimiliki kepada situasi yang baru dijumpainya, kemudian makin banyak pengetahuan yang dimiliki, maka makin kuatlah daya yang dimiliki, maka makin kuatlah daya kemampuan seseorang dalam mengembangkan dirinya untuk mencapai pengetahuannya.
2)      Menurut teori belajar asosiasi belajar itu terjadi hubungan asosiasi, sehingga pengumpulan pengetahuan oleh seseorang diperlukan untuk menyiapakan bagi  asosiasi yang dijumpainya kemudian. Oleh karena itu diperlukan banyak pengetahuan yang sejenis dengan pengetahuan yang akan diperolehnya pada situasi yang baru itu.
3)      Menurut Teori Gestalt belajar itu merupakan pemahaman dari keseluruhan unsur yang ada pada situasi belajar. Karena itu diperlukan penguasaan pengetahuan yang sebanyak-banyaknya guna mrmahami pengetahuan yang baru dijumpainya.

4. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilaksanakan, dikerjakan), sedang pengertian prestasi belajar dalam pembahasan ini yang penulis maksud adalah hasil diperoleh dari proses belajar dengan nilai tinggi maupun rendah, baik dalam bentuk nilai kualitatif maupun kuantitatif.
Pelajar atau siswa harus mempunyai konsekwensi belajar, menekuni pelajarannya demi tercapainya cita-citanya. Tanpa adanya ketekunan belajar mustahil seorang siswa akan mencapai prestasi yang tinggi. Belajar adalah merupakan pekerjaan yang berat, seorang siswa tidak akan sanggup mengeluarkan tenaga yang berat itu dalam satu hari penuh sekalipun siswa itu mempunyai niatan yang baik, karena pikirannya akan beralih pada satu topik kepada topik yang lain. Oleh karena itu kegiatan belajar bukanlah pekerjaan yang terus menerus, tetapi seorang siswa dapat membagi waktunya pada masa yang pendek dalam kontinuitas belajarnya.
5.  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar memang banyak sekali jenisnya, namun secara umum dapat di golongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor yang intern dan faktor ekstern.
a. Faktor Intern
Adalah faktor yang ada dalam inbdividu yang sedang belajar. Dalam hal ini slameto mengatakan “ ada tiga faktor yang mempengaruhi yaitu faktor jasmaniyah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan.”

1.      Faktor Jasmaniyah
Faktor jasmaniyah perlu diperhatikan dalam belajar, karena faktor tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap belajar. Faktor-faktor tersebut seperti keadaan sehat atau keadaan sakit.
Hal itu dikuatkan oleh Winarno Surachmad dalam bukunya interaksi belajar mengjar sebagai berikut “Diantara faktor-faktor yang memberikan kondisi tertentu pada peristiwa belajar adalah faktor psikologis”.
Kesehatan fisik pada umumnya sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar individu. Orang yang dalam keadaan sehat dan segar jasmaninya  akan berbeda dengan oaring yang kondisi jasmaninya dalam keadaan sakit.
2. Faktor Psikologis (Rohani)
Faktor ini sangat besar pengaruhnya terhadap belajar. Karena yang demikian ini dapat membawa siswa kedalam situasi edukatif.
Salah satu faktor psikologis yang banyak mempengaruhi belajar adalah faktor minat. Minat adalah faktor kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapan kegiatan.
Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena jika tidak sesuai dengan minat tidaklah seseorang itu akan melaksanakan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya. Demikian pula halnya dalam belajar.
Minat sangat perlu mendapat perhatian di dalam belajar. Dengan adanya minat akan memudahkan timbulnya perhatian dan akan mempunyai pengaruh yang baik dalam konsentrasi.

3. Faktor Kelelahan
Kelelahan dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu kelelahan jasmani dan rohani. Kelelahan rohani tampak pada bentuk lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan., sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu akan mudah hilang. Ini ditandai dengan pusing kepala sehingga sulit untuk berkonsentrasi.

b. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri manusia. Salah satu faktor ekstern yang banyak mewarnai terhadap siswa adalah faktor keluarga. Karena awal pendidikan anak adalah berlangsung dalam keluarga. Sehingga kerja sama antara keluarga sangatlah penting demi berhasilnya pendidikan yang dicita-citakan.
Faktor keluarga yang banyak mewarnai pada belajar adalah:
1. Pekerjaan Orang Tua
Orang tua hendaknya selalu menjaga dan memperhatikan kebutuhan anak, baik kebutuhan primer atupun kebutuhan jiwa dan sosial. Anak sangat membutuhkan pemeliharaan langsung dari orang tua. Namun tidak semua orangtua melakukannya terhadap anak. Hal ini disebabkan karena orang tua yang bekerja sehari-hari, sehingga perhatian orang tua terhadap anak kurang.
Dalam hal ini tersebut Zakiyah Darojad mengatakan “Orang yang bekerja sedikit tiap hari ia selalu mengalami pergantian udara antara rumah tangga, kantor atau masyarakat luar, maka ia akan menghadapi anak-anaknya dan rumah tangganya dengan hati tenang, lega dan gembira”.
Dari pendapat tersebut menunjukkan bahwa, betapa besar pengaruh orang tua terhadap anak, baik dalam sikap, tingkah laku maupun dalam belajar anak. Orang tua yang selalu sibuk dengan pekerjaan, perhatiannya terhadap anakpun menjadi sangat berkurang. Ini bisa menimbulkan pertumbuhan fisik, perasaan, kecerdasandan sosial anak kurang baik sehingga dapat mengakibatkan prestasi belajar anak berkurang. Orang tua yang tidak disibukkan oleh pekerjaan dan ekonominya akan banyak mencurahkan perhatiannya terhadap anak.
2. Keadaan Ekonomi Orang Tua
Pekerjaan akan memberikan penghasilan yang tetap yang merupakan salah salah satu harapan seseorang. Manusia bekerja dengan harapan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan jasmani maupun rohani.
Dengan kondisi orang tua yang mantap akan terpenuhi semua saran dan alat-alat pelajaran yang dibutuhkan anak. Disamping itu dengan kebutuhan yang cukup, banyak memberikan kesempatan bagi orang tua untuk memberikan makanan yang penuh gizi kepada anak-anaknya, sehingga  inteligensi anak akan menjadi cerdas dan tanggap terhadap ilmu pengetahuan yang diterimanya.
Fleming mengatakan “Pengaruh keadaan sosio ekonomi keluarga juga ada hubungannya dengan kecerdasan anak, sehingga pada umumya anak-anak yang pandai berasal dari keluarga yang makmur”.
Kemampuan ekonomi orang tua banyak memberikan kesempatan belajar anak di rumah, sebaliknya ekonomi orang tua yang kurang mampu bisa mengganggu kesempatan belajar anak di rumah, karena tidak jarang orang tua banyak mempergunakan tenaga anak-anaknya untuk membantu kesibukannya. Disamping itu keadaan ekonomi orangtua juga akan berpengaruh terhadap perkembangan dan belajarnya anak.
Keadaan sosio ekonomi keluarga mempunyai peranan terhadap perkembangan anak-anak. Apabila kita pikirkan, bahwa dengan adanya perokonomian yang cukup, ligkungan material yang luas dihadapai oleh anak dalam keluarganya, ini akan mendapatkan kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan yang dimiliki. Karena alat-alat yang diperlukan dapat disediakan oleh orang tuanya. Kondisi ekonomi orang tua yang serba cukup (orang tua yang mampu akan menyebabkan orang tua dapat mencurahkan perhatiannya yang lebih mendalam kepada pendidikan anaknya).
Dengan perhatian orang tua dan ekonomi yang cukup, anak dapat mengembangkan kecakapannya, sehingga belajarnya akan berhasil lebih baik. Dengan demikian jelaslah bahwa keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya  dengan belajar anak. Karena dengan terpenuhinya kebutuhan pokoknya, fasilitas belajar akan terpenuhi dan situasi belajar akan lebih mudah terwujud. Sebaliknya jika anak hidup dalam keluarga miskin, kebutuhan pokoknya kurang terpenuhi dapat menyebabkan anak memiliki sifat pesimis dan minder yang sangat tidak mendukung untuk mewujudkan kondisi belajar yang kondusif, sehingga prestasi belajarnya pun akan berkurang.
E.  Ilmu Pengetahuan Sosial
1. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.
Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.
Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.
Manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi penghuni di permukaan planet bumi ini, yang senantiasa berhadapan/berhubungan dengan dimensi-dimensi ruang, waktu, dan berbagai bentuk kebutuhan (needs) serta berbagai bentuk peristiwa baik dalam skala individual maupun dalam skala kelompok (satuan sosial).
Berkenaan dengan sebagian dari hakekat makhluk manusia tadi, dan kemudian dihadapkan pada beberapa disiplin ilmu sosial, maka tentu saja terdapat relasi, relevansi, dan fungsi yang cukup signifikan. Dimensi  ruang (permukaan bumi) dengan  segala fenomenanya, sangat relevan menjadi obyek (bahan) kajian geografi. Sedangkan dimensi manusia baik dalam skala individual maupun dalam skala kelompok (masyarakat dan satuan sosial lainnya) sangat relevan menjadi bahan kajian/telaah disiplin sosiologi dan psikologi sosial. Kemudian dimensi waktu dan peristiwa-peristiwa yang dialami manusia dari waktu ke waktu sangat relevan menjadi obyek/bahan kajian bagi disiplin ilmu sejarah. Sedangkan dimensi kebutuhan (needs) yang senantiasa memiliki karakteristik/sifat keterbatasan (kelangkaan) sangat tepat menjadi obyek kajian bagi disiplin ilmu ekonomi.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya.  Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum  sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial.
Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual, teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu sosial dan studi-studi sosial.
Gambar 1. Keterpaduan Cabang Ilmu Pengetahuan Sosial


 







2. Tujuan  Pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi  peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi   sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin, 1998).
Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1.      Mengenal  konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan  masyarakat dan lingkungannya
2.      Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,  inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial
3.      Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
4.      Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.
5.      Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.
6.      Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
7.      Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
8.      Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
9.      Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat

3. Ruang Lingkup Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
1.      Ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
2.      Manusia, Tempat, dan Lingkungan         
3.      Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan
4.      Sistem Sosial dan Budaya
5.      Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan.
6.      Memahami identitas diri dan keluarga, serta mewujudkan sikap saling menghormati dalam kemajemukan keluarga
7.      Mendeskripsikan kedudukan dan peran anggota dalam keluarga dan lingkungan tetangga, serta kerja sama di antara keduanya
8.      Memahami sejarah, kenampakan alam, dan keragaman suku bangsa di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi
9.      Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi
10.  Menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah nasional, keragaman suku bangsa serta kegiatan ekonomi di Indonesia
11.  Menghargai peranan tokoh pejuang dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia
12.  Memahami perkembangan wilayah Indonesia, keadaan sosial negara di Asia Tenggara serta benua-benua
13.  Mengenal gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga, serta dapat melakukan tindakan dalam menghadapi bencana alam
14.  Memahami peranan Indonesia di era global
4.  Konsep Pembelajaran Terpadu dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3). Salah satu di antaranya adalah memadukan Kompetensi Dasar melalui pembelajaran terpadu siswa dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, siswa terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.
Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang. Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.
  1. Model Integrasi Berdasarkan Topik
Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan topik  yang terkait, misalnya ‘pariwisata’. Pariwisata dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam Ilmu Pengetahuan Sosial. Pengembangan pariwisata dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup dalam disiplin Geografi.
Secara sosiologis, pariwisata itu juga dapat ditinjau dari partisipasi masyarakat,  pengaruhnya terhadap kondisi sosial budaya setempat, dan interaksi antara wisatawan dengan masyarakat lokal. Secara historis dapat dikembangkan melalui sejarah daerah pariwisata tersebut. Keadaan politik juga dapat dikaji pula pada topik pengembangan pariwisata berkaitan dengan pengaruhnya terhadap perkembangan pariwisata. Selanjutnya, dampak pariwisata terhadap perkembangan ekonomi lokal maupun nasional dapat dikembangkan melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi. Skema berikut memberikan gambaran keterkaitan suatu topik/tema dengan berbagai disiplin ilmu.


 







Gambar 2: Model  Integrasi IPS Berdasarkan Topik/Tema
  1. Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama
Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh, “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari faktor alam, sosial/antropologis, historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka siswa selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam Ilmu Pengetahuan Sosial.


 


·   Potensi objek wisata                           Memupuk aspirasi terhadap kesenian



·   Keamanan dan stabilitas daerah                                         
·   Azas manfaat terhadap
kesejahteraan penduduk
Gambar 3: Model Integrasi IPS Berdasarkan Potensi Utama

  1. Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan
Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Pemukiman Kumuh”. Pada pembelajaran terpadu, Pemukiman Kumuh ditinjau dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Juga dapat dari faktor historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan/norma.







 





Gambar 4. Model Integrasi IPS Berdasarkan Permasalahan

















No comments: