Friday, June 1, 2012

PLPG IAIN RADEN INTAN 2012 : MATERI AKIDAH AKHLAK QADLA DAN DODAR




 
Text Box: KB 1QADLA DAN QADAR


 

 
KATA PENGANTAR
 Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian
Mampu beriman pada qadla dan qadar
1.      Menjelaskan makna qadha dan qadar
2.      Menjelaskan makna iman kepada qadha dan qadar
3.      Menyebutkan dalil naqli tentang qadha dan qadar
4.      Menyimpulkan hikmah beriman kepada qadha dan qadar
5.      Menunjukkan akibat yang ditimbulkan oleh orang yang tidak percaya kepada adanya qadha dan qadar

A. MAKNA QADHA DAN QADAR
Istilah qadha dan qadar memiliki makna bermacam-macam. Qadha dapat dimaknai hukum,[1] perintah,[2] mengabarkan[3] dan iradah (kehendak). [4]   Qadha berarti penetapan hukum atau penentuan   dan  penghakiman sesuatu. Seorang qadhi (hakim)  dinamakan demikian  sebab ia bertugas atau bertindak  menghakimi dan memutuskan perkara. Sedangkan Qadar—bentuk masdarnya takdir—berarti ketentuan, perkiraan, ukuran, ketetapan dan putusan. Secara lughawi qadar memiliki tiga makna, yaitu;

Pertama, qadar sebagai suatu ilmu yang amat luas, meliputi segala sesuatu yang akan terjadi dan semua yang berhubungan dengannya, yang sekiranya terjadi kelak pasti sesuai dengan apa yang telah diketahui dan ditentukan sejak semula. Kedua, qadar  merupakan sesuatu yang dipastikan lahir dari penciptanya, dimana perwujudan itu sesuai dengan apa yang diketahui sebelumnya. Ketiga, qadar berarti menertibkan, mengatur dan menentukan sesuatu menurut batas-batasnya dimana akan sampai sesuatu kepadanya.
Dari sekian banyak ayat al-Qur’an dipahami bahwa senua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah, mereka tidak dapat melampaui  batas ketetapan tersebut, dan Allah SWT menuntun dan menunjukkan mereka arah yang seharusnya dituju, demikian yang dipahami dari permulaan ayat dalam surat al-A’la:
y7mÎxË #$óOz u/nÎ7y #${Fãô?n ÈÊÇ #$!©%Ï {y=n,t ùs¡|q§3 ÈËÇ ru#$!©%Ï %s£u ùsgyy3 ÈÌÇ
“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan (semua makhluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkannya.” (QS al-A’la (87): 1-3)

Karena itu ditegaskan dalam surat Yasiin ayat 38
ru#$9±¤Jô§ß BrgøÌ 9ÏJß¡óGt)sh9 9©gy$ 4 Œsº9Ï7y ?s)øσã #$9øèyÍƒÍ #$9øèy=ΊOÉ ÈÑÌÇ
Dan matahari beredar di tempat peredarannya. Demiian itulah takdir  yang ditentukan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (38), Dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah , (sehingga setelah samapai pada manzilah terahir), kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. (QS Yaa Sin (36): 38-39)

Bahkan segala sesuatu terdapat takdir atau ketetapn-Nya:
#$!©%Ï 9smç¼ Bã=ù7à #$9¡¡Jy»quºNÏ ru#${FöÚÇ ru9sOó ƒtG­Ïõ ru9sY# ru9sNö ƒt3ä` !©&ã¼ °ŸŽÎƒ7Ô ûÎ #$9øJß=ù7Å ruzy=n,t 2à@¨ «xÓóä& ùs)s£unç¼ ?s)øσ\# ÈËÇ
Dan Dialah yang telah menciptakan sesuatu, lalu Dia menetapkan atasnya  qadar (ketetapan) dengan sesempurna sempurnanya (QS al-Furqan (25): 2)
Demikian takdir Allah SWT menjangkau seluruh makhluk-Nya, sebagaimana firman Allah SWT:
                                                                        ru4 %sô _yèy@Ÿ #$!ª 9Ï3ä@eÈ «xÓóä& %sôY# ÈÌÇ
Allah telah menetapkan bagi segala sesuatu  kadarnya”. (QS al-Thalaq (65): 3)
            Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini  dari sisi kejadiannya dalam kadar dan ukuran tertentu, dan itulah takdir. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhan. Inilah yang kemudian disebut dengan sunnatullah, meskipun beberapa ulama, seperti Quraish Shihab, tidak sepenuhnya sependapat dengan pernyataan tersebut. Sunnatulah yang digunakan dalam al-Qur’an adalah untuk hukum-hukum Tuhan yang pasti, sedangkan takdir  mencakup hukum-hukum kemasyarakatan dan hukum-hukum alam.
            Kemampuan manusia terbatas sesuai dengan ukuran Allah kepadanya. Manusia, misalnya tidak bisa terbang, ini merupakan ukuran  atau batas kemampuan yang diberikan Tuhan kepada manusia, kecuali menggunakan akalnya untuk menciptakan sesuatu 
Menurut M. Taib Thahir bahwa pemakaian qadha yang terdapat dalam Al-Quran lebih tepat diartikan hukum yang ditetapkan Tuhan dalam azalinya semenjak dahulu kala tentang apa-apa yang akan terjadi di dunia dan akhirat. Oleh karena itu apapun yang akan terjadi semuanya telah diketahui-Nya. Sedangkan qadar berarti merancang dan merencanakan sesuatu yang akan diperbuat dengan pikiran dan perhitungan semasak dan seteliti mungkin. Menurutnya, arti qadha dan qadar itu tidak seberapa perbedaannya, bahkan dapat dikatakan satu arti. Sehingga seringkali dijumpai dalam hadis Nabi penuturan qadha dan qadar secara bersama-sama, dan kadang-kadang hanya menuturkan qadarnya saja. Sebagaimana sabda Nabi Saw:
..الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِِ وَكُتُبِهِ وِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِِ و تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ (رواه البخارى ومسلم)
Artinya :
Apakah iman itu? Berkata Rasulullah Saw.: Iman itu ialah, bahwa engkau percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, percaya kepada hari akhir, dan percaya kepada qadha dan qadar Allah yang baik maupun yang buruk adalah dari Allah…. (HR Bukhari dan Muslim)
Al-Qadar yang dimaksudkan di sini adalah qadar Allah, yakni ilmu Allah dalam azalinya yang meliputi segala sesuatu yang akan terjadi  dan yang berhubungan dengannya, dan yang sekiranya terjadi kelak pasti sesuai dengan apa yang telah diketahui dan ditentukan sejak semula oleh-Nya.
Sementara itu, menurut Dja’far Amir, qadha merupakan keputusan yang berlaku menjadi kenyataan atas tiap-tiap makhluk sesuai dengan ilmu serta takdir Tuhan semenjak zaman azali. Dengan kata lain, semua keputusan yang telah berlaku pada tiap-tiap makhluk itu terlaksana menurut apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan semenjak zaman azali. Karena itu semua hal yang terjadi, semua kejadian yang berlaku adalah sepengetahuan dan telah direncanakan Tuhan sejak dahulu, tetapi manusia tidak dapat mengetahuinya.  Sedangkan qadar adalah ketentuan-ketentuan yang mesti berlaku atas tiap-tiap makhluk, sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan oleh Tuhan semenjak zaman azali, termasuk juga ketentuan yang baik dan buruk kesemuanya akan berlaku menurut kehendak Tuhan.
            Tuhan menjadikan alam ini lengkap dengan ketentuan-ketentuan yang bertautan dengan makhluk menurut batas-batas Tuhan. Qadar Tuhan tidak dapat dihindarkan oleh makhluk. Sesungguhnya segala yang akan terjadi di dunia ini telah tercantum dalam “Lauhul Makhfudh” semenjak zaman azali, yakni suatu tempat yang terjaga oleh para malaikat. Semua taqdir yang tertulis di sana, manusia tidak mengetahuinya, kecuali Allah sendiri yang mengetahui.
Firman Allah Swt:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (الحديد\57: 22)
Artinya:
Suatu musibah tidak akan terjadi di bumi ini, dan tidak pula terjadi pada diri kamu sekalian melainkan semuanya itu telah termaktub semenjak sebelumnya dalam Kitab sebelum Kami wujudkan kejadian-kejadian tersebut. (QS Al-Hadid [57]: 22).
            Selain pendapat di atas, para ulama kalam dari golongan Asy’ari memaknai qadha itu sebagai iradah (kehendak) Allah dalam azalinya berhubungan dengan segala hal dan keadaan, kebaikan dan keburukannya, keadaan mana sesuai dengan apa yang akan diciptakan Allah yang tidak akan berubah-ubah sampai terbuktinya iradah tersebut. Sementara qadar berarti mewujudkannya Allah terhadap semua makhluk dalam bentuk dan pembatasan tertentu, baik mengenai zat-zat ataupun sifat-sifatnya, yang keadaan itu sesuai dengan iradah-Nya. 
Sebaliknya golongan Maturidi memaknai qadha dengan Allah mewujudkan sesuatu dengan serapi dan sebaik mungkin. Sedangkan qadar dimaknai sebagai ilmu Allah dalam azalnya tentang akan terjadinya segala sesuatu dalam bentuk dan keadaan yang tidak akan menyimpang dari ilmu Allah tersebut.
Beberapa  ayat Al-Quran  berkaitan dengan uraian qadha dan qadar di antaranya adalah sebagai berikut:
وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا (فصلت: 10)
Artinya:
…Dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya... (QS Fushshilat : 10).
وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَارٍ (الرعد\13: 8)
Artinya:
Dan segala sesuatu pada sisi-Nya adalah dengan ketentuan-Nya. (QS Al-Ra'du [13]: 8)
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ (الحجر\15: 21)
Artinya:
Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan takdir yang dipastikan (QS Al-Hijr [15]: 21).
Jadi yang bisa dipahami dari beberapa ayat di atas adalah bahwa maksud makna qadar atau takdir adalah suatu ketentuan yang telah dibuat oleh Allah Swt untuk segala yang ada di alam semesta yang maujud ini. Ketentuan tersebut adalah undang-undang umum atau kepastian-kepastian yang diikatkan di dalamnya antara sebab dengan musabbabnya, juga antara sebab dan akibatnya.

B. MAKNA IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR
            Iman terhadap qadha dan qadar merupakan salah satu dari rukun iman. Percaya kepada qadha dan qadar ini bukanlah harus mempercayai begitu saja, bahwa segala sesuatu yang diketahui Allah itu pasti akan terjadi dengan tidak mengindahkan sebab-sebab dan unsur-unsur yang semestinya harus ada sebagai syarat atas timbulnya kejadian itu. Percaya terhadap qadha dan qadar bukanlah berarti bahwa ikhtiar (usaha) dan tanggung jawab manusia dihapuskan. Manusia telah dianugerahi kesanggupan berikhtiar, karena itu kepadanya pula dibebani tanggung jawab dalam amal perbuatannya.
Iman kepada qadha dan qadar ialah membenarkan dengan sesungguhnya bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik dan buruk itu adalah atas qadha dan qadar Allah Swt. Dalam firman-Nya yakni QS Al-Hadid [57]: 22 di atas membuktikan bahwa segala yang terjadi pada alam semesta dan pada jiwa manusia, yang baik dan buruk, semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah Swt dan ditulis sebelum diciptakannya makhluk. Keyakinan seperti ini menjadi wajib agar manusia tidak mudah berprasangka buruk kepada Allah Swt. Firman Allah Swt.
لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا ءَاتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (الحديد\57: 23)
Artinya:
(Kami jelaskan yang demikian itu, yakni tentang takdir) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Al-Hadid [57]: 23)
            Firman Allah Swt:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ (فصلت\41: 46)
Artinya:
Barang siapa yang berbuat kebaikan akan berguna untuk dirinya sendiri, dan orang yang mengerjakan perbuatan jahat itu akan membahayakan dirinya sendiri. Tidaklah Tuhanmu berbuat sewenang-wenang atas hamba-hamba-Nya. (QS Fushshilat [41]: 46).
            Sepintas seolah taqdir itu bertentangan kebebasan berikhtiar dan tanggung jawab manusia, padahal pada hakekatnya tidaklah demikian. Kehendak dan ikhtiar manusia itu sendiri tidaklah terlepas dari kehendak Allah Swt. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (التكوير\81: 29)
Artinya:
Dan kamu sekalian tidak menghendakinya, kecuali Allah Pemimpin semesta alam  yang menghendaki. (QS Al-Takwir: 29).
Manusia diberi kekuasaan dan kebebasan berbuat, namun pada hakekatnya semua itu dapat terlaksana jika dikehendaki oleh Allah Swt. Dengan demikian kejadian, gerakan, bisikan dan kehendak apapun yang besar maupun yang kecil semuanya termasuk dalam lingkaran qadar Allah.
Untuk itu percaya terhadap adanya qadha dan qadar menjadi kewajiban bagi setiap orang yang menyatakan dirinya mukmin.
Banyak orang yang salah dalam memahami qadha dan qadar ini. Bahkan, menyatakan bahwa keburukan, maksiat atau kejahatan yang dilakukan seseorang seringkali mengatasnamakan takdir. Peristiwa ini pernah dialami dalam sejarah.
Bahwa di zaman pemerintahan Khalifah Umar, pernah terjadi pencurian, dan pencurinya tertangkap. Umar r.a. berkata: "Mengapa kamu mencuri?" jawab pencuri: "Allah telah menakdirkan demikian atas diriku." Mendengar jawaban seperti itu, Umar r.a. marah sekali, kemudian dia berkata: "pukul saja orang ini dengan cemeti, setelah itu potonglah tangannya!" para sahabat yang lain bertanya: "mengapa begitu berat hukumannya?" Jawab Umar: "Ya, itulah yang paling tepat. Dia wajib dipotong tangannya sebab mencuri dan wajib dipukul karena berdusta atas nama Tuhan."


C. HIKMAH BERIMAN KEPADA QADHA DAN QADAR
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar ini akan banyak merasakan banyak mendapat hikmah di balik itu. Dan hanya orang tersebut yang dapat merasakan secara seempurna. Namun demikian, secara umum hikmah beriman kepada qadha dan qadar ini antara lain:
1.      Orang yang beriman kepada qadha dan qadar Allah Swt  dapat mengurangi rasa tertekan jiwa karena  kegagalan dalam usaha atau hidup pada umumnya. Dengan percaya pada qadha dan qadar dapat dihindari rasa kecewa atau frustasi yang mendalam. Sebab dia berkeyakinan bahwa semua itu sudah digariskan oleh Allah. Manusia hanya dikenakan kewajiban untuk berusaha. Hal ini pernah disampaikan oleh Nabi Saw.
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ (رواه مسلم)
Artinya:
Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah, tetapi pada diri masing-masing mendapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu dengan memohon pertolongan kepada Allah dan jangan malas. Apabila engkau tertimpa sesuatu makan janganlah engkau mengatakan, "Seandainya aku berbuat begini tentu hasilnya begini dan begitu", akan tetapu uacapkanlah, "Allah telah menakdirkan dan apa yang Dia kehendaki Dia laksanakan." Karena sesungguhnya "andaikata" itu akan membuka perbuatan setan. (HR Muslim)
akan terhindar dari kesombongan saat dia menuai kesuksesan, dan terhindar dari penyakit stress (depresi) jika dia mendapatkan kegagalan.
2.  akan terhindar dari kesombongan saat dia menuai kesuksesan
3. akan selalu mematuhi aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan Allah SWT. Seperti contoh, Allah Swt membuat sebuah ketentuan atau hukum sebab akibat, "barang siapa yang sungguh-sungguh, maka dia akan menuai kesuksesan." Maka, manusia yang yakin akan ketentuan seperti itu akan berusaha bersungguh-sunggu dalam melakukan sesuatu. Karena, hukum Allah adalah dia akan menuai kesuksesan.
3.  dapat membangkitkan gairah dan semangat kerja, dapat mendorong seorang mukmin untuk menciptakan kegiatan yang bersifat positif untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak. Sekaligus, dia akan dapat mengangkat dirinya kepada sifat-sifat yang luhur dan mulia.
D. ORANG YANG TIDAK PERCAYA PADA QADHA DAN QADAR
Orang yang tidak percaya adanya qadha dan qadar ini berarti tidak sempurna imannya, karena dianggap tidak mengakui kesempurnaan ilmu Allah Swt, keagungan, maupun iradah-Nya. Padahal, salah satu rukun Iman itu adalah iman kepada qadha dan qadar Allah.
Ayat-ayat Al-Quran menandaskan, bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi  di alam ini tanpa sepengetahuan dan kehendak Allah. Orang yang mengingkari qadha dan qadar berarti mendustakan ayat-ayat Allah.
            Bilamana terdapat orang yang menganggap segala sesuatu tergantung dirinya sendiri, segala kebajikan dan keberuntungan yang diperolehnya dikarenakan kecakapannya semata tentulah dia dapat dikategorikan sebagai orang congkak, angkuh, dan hamba yang tidak bersyukur. Orang yang demikian ini akan dibenci dan dihindari oleh masyarakat di sekitarnya. Selain itu, Allah enggan untuk memasukkannya kedalam surga-Nya.
Orang yang ditimpa bencana dengan anggapan bencana itu semata-mata karena kekeliruannya, mungkin akan terlalu menyesali dirinya, atau akan mendendam kepada orang-orang di sekitarnya. Kemudian, bila seseorang  yang selalu ditimpa musibah secara bertubi-tubi dengan tanpa menyandarkannya kepada Allah, sementara dia sendiri tidak memiliki kemampuan menolak musibah tersebut tentu akan menimbulkan sikap frustasi dan berujung pada tindakan fatal. Jika sudah demikian, dia akan susah melanjutkan sisa hidupnya.
Munculnya kesesatan manusia diawali dengan pendurhakaan akan ajaran Allah Swt. Pendurhakaan tersebut muncul karena tumbuhnya sifat sombong lagi congkak, yang kemudian berakibat merasa benar sendiri. Akhirnya, dia akan berbuat kerusakan dan tidak mau menunaikan perintah Allah Swt.

RANGKUMAN

  1. Qadha adalah keputusan yang berlaku menjadi kenyataan atas tiap-tiap makhluk sesuai dengan ilmu serta takdir Tuhan semenjak zaman azali
  2. Qadar adalah ketentuan-ketentuan yang mesti berlaku atas tiap-tiap makhluk, sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan oleh Tuhan semenjak zaman azali, termasuk juga ketentuan yang baik dan buruk kesemuanya akan berlaku menurut kehendak Tuhan
  3. Iman kepada qadha dan qadar ialah membenarkan dengan sesungguhnya bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik dan buruk itu adalah atas qadha dan qadar
  4. Hikmah beriman pada qadha dan qadar antara lain: menghilangkan  kesombongan, stress dan depresi; meraih kesuksesan; meningkatkan semangat kerja

LATIHAN KECAKAPAN             
Tugas Diskusi.
Diskusikan dengan teman-teman anda apakah terjadinya bencana alam yang mendera sebuah negara itu sebagai takdir atau bukan. Bagaimana dengan keterlibatan manusia dalam melahirkan bencana-bencana, seperti banjir, kemarau panjang, atau tsunami.

LATIHAN
A.Pilihlah jawaban yang paling benar di bawah dengan memberi tanda silang (X) pada huruf a,b,c, atau d pada soal-soal di bawah ini!
1. Di bawah ini adalah makna dari qadha kecuali …
     a. hukum                            c. kehendak
     b. perintah                          d. mengganti ibadah
2. Sedangkan qadar bermakna di bawah ini kecuali..
     a. menertibkan                   c. menentukan
     b. mengukur                       d. dipastikan muncul dari
                                                   Tuhan
3. Menurut Allah sebagaumana yang difirmankan dalam QS Al-Hadid: 23, adanya perintah untuk meyakini adanya qadar ini adalah…
     a. agar bisa melihat masa depan dengan jelas
     b. agar memuluskan jalan hidupnya
     c.  agar tidak kecewa ketika mendapatkan musibah atau kegagalan
     d. agar hidup lebih menyenangkan
4. Hikmah beriman kepada qadha dan qadar antara lain…
     a. menjadikan hidup lebih tentram dan bahagia
     b. menambah gairah melakukan perbuatan dosa
     c. ridha dengan perilaku jeleknya
     d. menghadapi masa depan yang lebih gemilang
5.   Orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar akan mendapatkan resiko yang cukup besar, antara lain..
     a. hidup bahagia
     b. hidup lebih terarah dan fokus
     c.  hidup menjadi tentram dan sejahtera senantiasa diliputi kedamaian
     d. mudah terkena depressi atau stress yang kemudian merusak hidupnya
















[1]QS Al-Nisa [4]: 65
[2]QS Al-Isra [17]: 23
[3]QS Al-Isra' [17]: 4
[4]QS Ali Imran [3]: 47

No comments: