Saturday, April 14, 2012

PENGERTIAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI


         Pengertian Kemampuan Komunikasi
Oleh Kabul Rifai*
Pengertian kemampuan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993: 522) adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan. Anak yang mengalami kelainan pendengaran akan mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasa, sedangkan kemampuan berbahasa menentukan kemampuan berbicara, hal ini dialami oleh anak tuna rungu wicara. Dengan demikian proses pembelajaran bahasa bagi anak tuna rungu wicara sangat diperlukan agar mereka bisa meningkatkan kemampuan bekomunikasi.
Pengertian komunikasi menurut Riyono Praktiko (1990: 21) bahwa “Komunikasi adalah suatu pernyataan antara manusia yang bersifat umum dengan menggunakan lambang yang dimengerti”. Sedangkan pengertian komunikasi menurut Onong Uehjena Effendi (1988: 6) bahwa “komunikasi adalah penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap, pendapat atau pikiran, baik langsung secara lisan maupun tidak langsung”. Dijelaskan lebih lanjut upaya mengubah pikiran adalah misalnya, yang asalnya tidak tau menjadi tau, yang semula tidak mengerti menjadi mengerti, yang tadinya bodoh menjadi pintar. Upaya mengubah perasaan umpamanya yang tadinya sedih menjadi gembira, yang semula marah menjadi tenang. Upaya mengubah perilaku dicontohkan yang semula malas menjadi rajin. Selain itu sebuah komuniksai akan terjadi apabila seseorang dapat menangkap pesan dari orang yang menyampaikan pesan tersebut.


 
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi adalah kecakapan atau kesanggupan penyampaian pesan, gagasan, atau pikiran kepada orang lain dengan tujuan orang lain tersebut memahami apa yang dimaksudkan dengan baik, secara langsung lisan atau tidak langsung.
Berkomunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan setiap orang. Komunikasi banyak bentuknya, salah diantaranya adalah dengan komunikasi verbal. Pada kenyataanya komunikasi verbal lebih sering digunakan dari pada komunikasi non verbal.
Komunikasi verbal merupakan karakteristik khusus dari manusia. Sebab tidak ada makhluk yang bisa bermacam-macam arti melalui kata-kata. Kata-kata dapat digunakan individu untuk menyatakan ide yang beragam serta komprehensip dan tepat. Kata-kata memungkinkan menyatakan perasaan yang dapat dibaca  orang lain untuk waktu yang lama.
Komunikasi verbal dibedakan menjadi 2 macam yaitu:
1)       Komunikasi Lisan
a)      Pengertian
Komunikasi lisan dapat diartikan sebagai suatu proses dimana seorang pembicara berinteraksi secara lisan dengan pendengar untuk mempengaruhi tingkah laku penerima.
Kemampuan berkomunikasi secara lisan merupakan penyampaian yang melibatkan aspek berbahasa, bicara, suara, dan irama dengan mengandalkan kemampuan berfikir, mengartikan perasaan orang, menghayati keadaan, kemampuan untuk mengekspresikan sehingga dapat menyampaikan perasaan, kehendak, pikiran, dan pesan dengan rangkaian kaidah bahasa yang sesuai dengan aturan tata bahasa yang dituturkan oleh alat bicara.
Kemampuan komunikasi pada anak tuna rungu dapat dilihat dari kemampuan berfikirnya, kemampuan mengartikan perasaan orang lain, kemampuan ikut menghayati keadaan yang sedang terjadi dan kemampuan mengekspresikan perasaan pendapat dan perasaan lewat bahasa. Kaidah-kaidah bahasa disusun menjadi suatu kalimat susuai dengan aturan tata bahasa yang benar yang dituturkan melalui alat bicara sehingga sebagai pengatur bunyi, sehingga sebuah pikiran, perasaan, dan pesan yang ingin disampaikan dapat terungkap. Peristiwa penyampaian maksud, ide, pikiran, isi hati seseorang kepada orang lain dengan mengguankan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain merupakan peristiwa bicara atau berkomunikasi lisan.
Sebagai akibat kemiskinan kosakata dan bahasa anak menjadi egosentris, maka timbulah kesulitan dalam berkomunikasi baik untuk anak itu sendiri ataupun baqgi orang lain yang ingin berhubungan dengan anak tuna rungu. Sebagai salah satu usaha untuk memecahkan kesulitan dalam hambatan komunikasi tersebut diperlukan suatu usaha pembinaan melalui program latihan atau program pengajaran disekolah.
Bahasa terdiri dari konsep-konsep dan tata bahasa atau simbol, oleh sebab itu untuk menanamkan pengertian pada anak tuna rungu diperlukan dua hal yaitu konsep atau ide dan hubungan antara konsep dan simbol. Dengan berkomunikasi anak tuna rungu dapat melahirkan perasaan, kehendak, dan pikirannya, secara lisan pada orang lain dan pemakaian bahasa lisan dapat diperjelas dengan adanya lagu atau intonsi, nada, dan tekanan pada kalimat yang disertai dengan mimik dan pento mimik.
Dengan demikian komunikasi lisan merupakan penyampaian melibatkan aspek bahasa, bicara, suara dan irama dengan mengendalikan kemampuan pikir, mengartikan perasaan orang lain, menghayati keadaaan, dan kemampuan untuk mengekspresikan sehingga dapat menyampaikan perasaan, kehendak, pikiran dan pesan dengan merangakai bahasa melalui kalimat yang sesuai dengan aturan kata bahasa yang dituturkan alat bicara.
Persaratan yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi lisan adalah:
(1)     Faktor kebahasaan dalam komunikasi lisan:
(a)     Pelafalan atau pengucapan yang baik dan jelas dengan lafal baku sehingga perlu mengoreksi kesalahan kesalahan pengucapan fonem, pengucapan vokal maupun konsonannya.
(b)    Diksi atau pilihan kata, pilihan kata ini mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan dan bagaimana mengungkap ungkapan yang tepat.
(c)     Struktur kalimat yang digunakan dalam kalimat lisan secara formal adalah kalimat baku.
(d)    Intonas, suatu kalimat akan jelas maksudnya apabila diucapkan dengan lagu kalimat yang tepat. Intonasi ini penting artinya bagi anak tuna rungu sendiri untuk lebih memperjelas apa yang diucapkannya. (Lani Bunawan, 1994: 14)
(2)     Faktor non kebahasaan dalam komunikasi lisan
                  Faktor non-kebahasaan dalam komunikasi lisan meliputi:(a) Sikap wajar dan tenang, (b) pandangan terarah pada lawan bicara atau bagi anak tuna rungu adalah ke wajah, (c) gerak gerik atau mimik yang tepat, (d) volume suara, (e) kelancaran dan ketepatan.
b)      Sifat-sifat Komunikasi Lisan
Menurut Siti Rahayu Haditono (1991: 162) menyatakan bahwa komunikasi lisan memiliki sifat-sifat khusus yaitu:
a.       Produksinya menggunakan alat bicara, sedangkan penerimanya mengguankan indera pendengaran.
b.      Kecuali dalam komunikasi telepon atau lisan dalam kegelapan, pengirim dan penerima saling melihat wajah dan tubuh masing-masing.
c.       Kecuali dalam menerima komunikasi rekaman, pada dasarnya tidak ada jarak antara produksi dan penerimaan.
Dikatakan lebih lanjut oleh Siti Rahayu Haditono, komunikasi lisan memiliki ciri-ciri khusus atau ciri pokok yaitu dikatakan dan didengar serta situasi tatap muka.
Pada anak tuna rungu, komunikasi lisan terjadi dalam situasi tatap muka. Hal ini untuk memudahkan anak dalam menerima dan menangkap apa yang disampaikan orang lain. Terkadang anak tuna rungu tidak dapat mengerti apa yang dikatakan orang lain apabila tidak bertatap muka, sehingga apa yang dikatakan orang akan berbeda maksud dengan anak tuna rungu. Dengan bertatap muka anak tuna rungu dapat mengartikan maksud dan perkataan orang lain melalui indera penglihatannya yaitu dengan melihat ekspresi dan gerak bibir serta tingkah laku orang tersebut
Dengan demikian komunikasi lisan anak tuna rungu yang menyangkut bahasa, bicara, irama, serta pemahaman arti kata akan diterima dan ditangkap secara baik melalui situasi tatap muka.
2)       Komunikasi Tulisan
Menurut Arni Muhammad (1989: 98) menyatakan bahwa “komunikasi tulisan merupakan suatu proses dimana seseorang menyampaikan pesan dalam bentuk yang dituliskan pada kertas atau pada tempat yang bisa dibaca”
*Guru MI Miftahul Ulum Waringinsari Pringsewu Lampung

No comments: