Tuesday, April 10, 2012

MACAM-MACAM PUISI


MACAM-MACAM PUISI dan CONTOHNYA
Oleh : Kartika Septiarini, S.Pd.*

      1.       Puisi Satire (Deskriptif)
  
      ALAM
      Alam,
      Masih terngiang ingatanku bergetar
      Kuhirup nafasku dalam-dalam,
      Terbangun dan tersentak diriku di kesepian:
      Melihat engkau perkosa manusia,
      Batinku menangis kau tersiksa ulah manusia,
      Namun kau berkata “lain ladang lainlah belalang”
     
      Keindahan alam terkotori
      Sejak kehadiran manusia di dunia
      Sebuah cerita yang dramatic
      Berceritakan tentang kebersihan
      Namun hanya kata saja tiada perumpamaan
      Hingga akhirnya terngiang di hati rakyat
      Berlomba-lomba menjaga kelestarian alam
      Dalam merebut piala kartaparu mendunia


      2.   Puisi Kamar

      Kini kau ungkap sendiri
      Cinta yang dulu kau simpan rapi
      Kau ceritakan ia dengan gairah
      Tapi kini, aku tak menginginkannya sudah
      Mengapa tak kau ungkapkan cintamu sejak dulu
      Apa gunanya obat mujarab ketika cinta sudah sekarat aku
      Obat itu pastilah bermanfaat, saat aku masih sakit dulu.







      3.   Puisi Fisikal

      Mereka bilang, pergilah kau kawan!
      Mungkin kerinduan akan kembali dating
      Yakinlah! Bila kau memiliki kerinduan
      Perjumpaan itu pasti akan terulang

      Sedangkan aku tak mau salah memilih jalan
      Meneguk racun, dengan coba-coba  buat alasan.

      4.   Puisi Subyektif

      Kasih hari ini kau sangat berbeda
      Biasanya kau selalu tampil mempesona
      Kau sungguh berbeda dengan hari-hari kemarin
      Kini kau seperti orang yang terbelenggu batin
      Kebahagiaan pertemuan bukanlah khayalan belaka
      Dan taman cinta bukanlah taman gersang tak berbunga
      Merah rona pipinya kala persipu malu
      Menarik tiada tara, buat aku semakin meriondu
      Selain keindahan matanya, tak ada yang kupunya
      Dan selain dia, tak ada yang kubangga di dunia.

5.            Puisi Obyektif

         Herankah kau kla kuusir dia
         Takjubkah kau kala kuharap ia pulang segera
         Bukankah lebih baik berpiosah untuk kembali jumpa
         Ketimbang berpisah untuk selamanya
         Lantaran adanya jarak yang membentang di sana
         Tak benar kiranya bila mereka menyangka
         Perpisahan sementara itu bencana adanay
         Indahnya perjmpaan bisa jadi tak mereka rasakan
         Biarkan ada p[erpisahan, supaya perjumpaan bisa kau rasakan
         Nikmati kedudukan lantaran jarang yang memisahkan
         Sebelum kau rasakan dukanya perpisahan karena kematian.
6.   Puisi Konkret

      Dari cinta kita berasal
      Dan atas nama cinta dia menciptakan kita
      Karena tujuan cinta kita mendatanginya
dan demi cinta pula kita menghadap-Nya

7.   Puisi Diafan

      Walau sebatas tegur sapa, aku rela
      Usai itu kita berpisah.


8.  Puisi Metafisikal

Ingatlah! Allahlah pemilik waktu yang menguasaimu
Sungguh, aku lebih berharga dari jiwa dan keluargaku
Namun begitu kuat hasratmu tuk tinggalkan
Ku tetap sabar menunggu meski kau pergi dariku
Kebersamaan buat aku katakana cinta
Dan didalamnya akan kau temukan
Sedangkan lama perpisahan akan buat kau segera lupa

9   Stansa

      Kucintai engkau tanpa keraguan di dalamnya
      Padahal kebanyakan cinta hanyalah fata morgana
      Ingin kukatakan padamu dengan gambling dan tulus
      Cintaku padamu terukur zahir dan halus
      Jika di dalam jiwaku tertanam kebencian
      Kau kucabik seluruh tabir penutupnya dank u buang
      Sunggguh tak ada yang kuingini darimu selain cinta
      Sungguh tak ada yang kuucapkan padamu kecuali cinta





10    Allegori

Jangan diam!
Yang terjadi biarkan terjadi!
Bangun dan bergeraklah!
Pergilah kau ke taman yang rupawan
Bertaburan bunga-bunga indah menawan
Nyanyian lagu yang indah dan syair yang rampak
Iringi suaramu yang rancak dengan harmoni musik yang rancak

Daripada mengurung di rumah mencipta khayal
Lebih baik kau petik saja gitar pengusir kesal
Keindahan bunga bakung itu seperti
Lereng bukit landai, indah terhampar asri.

11.      Puisi Inspiratif
Setiap perpisahan yang terjadi
Sisakan harapan untuk bertemu lagi
Asalkan kau dijemput mati
Namun bila kau pergi dibawa mati
Putus asa tak lagi bisa dihindari

*Guru MI Miftahul Ulum Waringinsari Pringsewu Lampung

No comments: